|
Kesempatan 2 Menit |
|
|
Roberto Mancini
mengangkat tangannya. Ketegangan selama 44 menit yang menyelimutinya serasa
terangkat ketika menyaksikan Edin Dzeko dan Sergio Aguero mencetak gol, yang
membuat kesebelasan yang dilatihnya menang dan menjuarai liga Inggris untuk
pertama kalinya dalam 44 tahun. Betapa tidak, dengan keharusan menang agar bisa
juara, Mancini sulit tersenyum ketika Djibril Cisse menjebol gawang
kesebelasannya di menit ke-48, yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Jika
keadaan itu bertahan sampai akhir, artinya Manchester City (selanjutnya disebut
City), klubnya itu, harus menunggu lebih lama lagi untuk menjadi kampiun di
negeri Ratu Elizabeth itu. Keadaan seperti ini membuat timnya terus-menerus
menyerang agar sanggup menambah gol untuk menang. Ditambah kartu merah yang
membuat lawannya bermain dengan 10 orang, kesempatan menang semakin terbuka
baginya. Namun pada menit ke-65, sebuah tandukan kembali menjebol gawang City.
1-2. Tanda-tanda malapetaka mulai menyelimuti stadion Etihad, tempat City
bermarkas. Sampai menit 90, kedudukan tidak berubah. Para pendukung City mulai
menangis, marah, dan memperlihatkan ekspresi kekecewaan mendalam. Frustrasi.
Sedih. Bahkan ada yang membanting syal dan menginjak-injaknya tanda kesal. Mancini
tak kalah berang. Berkali-kali ia terlihat marah dan mengamuk untuk memotivasi anak
asuhnya agar lebih giat menyerang supaya bisa menambah gol.
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Arogansi |
|
|
Dalam dua
minggu terakhir ini ada banyak peristiwa yang ditunjukkan kepada kita tentang :
arogansi. Orang-orang yang bertindak arogan oleh karena kekuasaan yang ia
miliki. Kekuasaan yang dipergunakan dengan sewenang-wenang dan semena-mena.
Lihatlah tentang “cowboy Palmerah”, penyerangan ormas ke sebuah kampung di Solo
atau penggusuran yang dilakukan dengan cara kekerasan. Bahkan orang kebanyakan pun
ikut-ikutan menunjukkan kekuasaannya melalui arti kata “massa”. Massa yang
menduduki lahan, massa yang merusak aset perusahaan, massa yang memukuli pelaku
kejahatan, dll.
Kuasa atau
kekuasaan itu bagaikan pisau. Dia bisa dipergunakan untuk memotong buah dan
sayur namun dia bisa juga dipergunakan untuk melukai orang. Kuasa atau
kekuasaan itu adalah satu hal yang netral. Dia bisa menjadi positif ketika
berada di tangan orang yang dengan bijaksana mempergunakannya sesuai dengan
tujuan negara atau organisasi atau masyarakat. Namun, sebaliknya kuasa itu
menjadi kuasa yang menghancurkan orang lain jikalau dipergunakan hanya
berdasarkan keinginan, maksud, tujuan, nafsu dari orang yang mempunyai
kekuasaan itu.
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 45 |