| Dunia Kesan-Kesan |
|
|
Betapa mengejutkan kabar yang dibawa oleh berbagai stasiun televisi.hari Minggu sore yang lalu. Berita tentang terjadinya kecelakaan di sekitar tugu Tani, Jakarta. Berita yang langsung “menutup” kabar besar yang menghabiskan uang rakyat: kursi yang seharga 24 juta rupiah sebuah, dan pembangunan secara keseluruhan sebuah ruangan yang nyaman untuk badan anggaran DPRD, serta ruang fitness DPRD di Sumatera Utara, dan renovasi istana presiden seharga ratusan miliar rupiah. Kabar apa. Itu? Kabar tertabraknya 12 orang pejalan kaki di trotoar dan orang yang sedang menunggu bis di halte. Dengan sengaja “di trotoar” dan “di halte” ditebalkan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah ada di tempat yang seharusnya, sudah ada di tempat yang tepat namun karena kecerobohan seseorang maka 9 orang meninggal dan 3 orang terluka. Masyarakat kebayakan semakin marah karena diketahui bahwa si pengemudi mengendarai mobil setelah mengkonsumsi narkoba dan minuman keras. Hujatan, kecaman, ancaman ditujukan kepada si pengemudi. Semua jari menuding ke arahnya, semua mata melotot dan marah kepadanya. Mencari siapa yang salah dan yang benar; siapa yang hitam dan putih; korban dan tersangka; jahat dan baik, adalah kebiasaan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Orang menjadi senang kalau dianggap sebagai yang benar, putih, korban, baik. Sebaliknya orang akan kebakaran jenggot dan marah kalau dianggap sebagai yang salah, hitam, tersangka, jahat. Dan masalahnya : itu semua seringkali bukan
merupakan fakta yang objektif dan sebenarnya. Ini semua seringkali ditimbulkan
oleh kesan-kesan yang diolah sedemikian rupa sehingga seseorang bisa kelihatan
benar, putih, korban, baik karena dikesankan demikia, sebaliknya seseorang bisa
dianggap yang salah, hitam, tersangka, jahat karena dikesankan demikian.
Hari-hari ini orang tidak bisa melihat dengan jernih segala yang baik, segala
yang indah pada dirinya, semua “digoreng”(dibuat sedemikian rupa) untuk
menguntungkan atau merugikan seseorang. Ingatlah sebagai orang beriman kita diajak
untuk memperlakukan orang lain seperti diri kita : “Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri.” (Matius 22 :
39). Merancangkan apa yang buruk, bahkan hanya dengan mulut kita adalah
tindakan yang tidak benar. Menimbulkan kesan-kesan (yang seringkali tidak
dilandasi oleh berita yang benar) adalah sebuah fitnah yang menunjukkan : kita
tidak mampu mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Jadi, apakah kita masih menjadi orang Kristen? Kasihilah orang lain dengan mulut dan tangan kita, dan itu dimulai dari dalam hati yang penuh kasih. Agus Wijaya
(Cermin – Warta Jemaat, 29 Januari 2012) |