JoomlaWatch 1.2.12 - Joomla Monitor and Live Stats by Matej Koval
Cermin


 



Penolakan : Apa Perasaan Dan Respon Saudara? Cetak

Jack Canfield, seorang pria yang memilki mimpi besar! Ia ingin menulis buku yang berisi kumpulan kisah nyata yang unik dan menggugah. Ia sangat yakin bahwa bukunya akan disukai banyak orang sehingga ia menulisnya dengan penuh semangat. Ketika naskah itu selesai, ia segera mengajukan ke penerbit dengan langkah optimis bahwa hasil karyanya akan mendapatkan respon positif. Namun tanpa diduga, penerbit yang ia tuju menolaknya. Berkali-kali ia mencoba untuk beralih ke penerbit lain namun tetap ditolak. Untuk kali ke-124 akhirnya naskahnya diterima oleh penerbit berikutnya. Blessing in disguise! Ketika terbit, bukunya terjual begitu pesat dengan banyak serial. Jack Canfield akhirnya meraih rekor dunia sebagai penulis yang karyanya menempati posisi nomor satu selama tujuh tahun berturut-turut. Chicken Soup for The Soul, itulah karyanya yang mendunia dan menjadi inspirasi bagi banyak jiwa.

Penolakan, PERTAMA: tentu berkaitan erat dengan PERASAAN seseorang. Ketika mengalami penolakan, seseorang bisa saja merasa malu, marah, minder, kecewa dan getir. Perasaan itu harus diakui bahwa tidak nyaman namun juga bersamaan dengan itu harus dikendalikan. Dalam berbagai pengalaman hidup yang berbeda-beda, setiap kita pasti pernah mengalami rasa tertolak. Penolakan bisa terjadi sejak dalam kandungan, dalam relasi dengan sesama, lingkungan pekerjaan dan hidup bermasyarakat. Yesus ketika datang ke duniapun menghadapi penolakan dari banyak pihak hingga usai masa pelayanan-Nya. Namun Yesus memiliki respon yang tangguh terhadap situasi ketertolakan yang Ia alami. Ketika ditolak dan dihina, Ia mengendalikan diri-Nya hingga Ia tetap fokus dengan tugas yang diemban-Nya. KEDUA: berkaitan dengan RESPON. Ada banyak respon yang bisa diekspresikan ketika mengalami penolakan. Seseorang bisa memilih untuk mengendalikan amarahnya atau justru menebar amarahnya. Memilih untuk mengasingkan diri dan tidak bertumbuh atau minta pertolongan Tuhan untuk membangkitkan semangatnya. Jack Canfield memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan dan berusaha bangkit. Pilihan itulah yang membawanya menjadi seorang penulis terkenal. Lebih dari itu, Yesus Sang Inspirator sungguh menjadi teladan bagi kita. Ia punya ketangguhan iman, kepribadian yang kuat, hati yang bijaksana, kasih dan pengampunan yang besar, sehingga penolakan demi penolakan mampu dilalui-Nya.

Pengakuan terhadap perasaan tidak nyaman ketika tertolak dan respon yang bijaksana akan membawa kita pada penemuan makna yang baru dibalik situasi ketertolakan yang kita hadapi. Cobalah renungkan, bisa jadi penolakan yang dialami membentuk kepribadian kita makin serupa dengan Sang pemilik kita, lebih terbuka untuk mengkoreksi keberadaan diri sendiri atau justru dapat menggiring kita selangkah lebih dekat pada keberhasilan-keberhasilan hidup. Jadikanlah penolakan sebagai sebuah pembelajaran hidup yang sarat makna. Amin

Marfan Tahamata Nikijuluw (Cermin - Warta Jemaat, 5 Mei 2013)

 
Menahan Diri Cetak

Kebebasan adalah hal yang didambakan oleh banyak orang, bahkan oleh banyak makhluk. Oleh karena itu orang berusaha untuk membebaskan dirinya dari belenggu apapun. Oleh karena itu penjara atau sangkar  adalah tempat yang kalau bisa dihindari.

Namun menahan diri dengan sengaja untuk tujuan tertentu adalah sebuah latihan. Berlatih untuk merasakan keterbatasan yang dialami oleh orang lain yang terbatas ekonominya supaya ia paham dan mampu memahami apa yang selama ini tidak dialaminya. Sebenarnya tidak terbatas namun membiarkan diri untuk terbatas dan dibatasi. Memang bukan hal yang mudah. Ketika kita tidak pernah susah, lapar, haus, terbatas karena semua bisa kita raih dengan apa yang kita miliki namun ketika semua masih dimiliki dan berusaha untuk tidak memanfaatkan apa yang ada pada kita. Inilah yang namanya menahan diri. Tahu mampu namun berusaha tidak melakukan. Itulah bela rasa. Ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Puasa bukanlah sekedar soal makan dan minum. Bukan juga soal tidak marah. Puasa adalah soal menahan diri; tidak melakukan yang kita tahu bisa oleh karena kita ingin melatih diri untuk menjadi manusia yang lebih taat dan setia kepada Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah menahan diri; tidak mempergunakan kuasa yang ada pada diri-Nya untuk melaksanakan misi Allah : menyelamatkan dunia dengan karya-Nya. Yesus memilih untuk mengosongkan diri-Nya dengan menjadi manusia, dan sebagai manusia, ia bukan manusia yang berkuasa (raja/ penguasa) namun Ia adalah seorang hamba, dan Ia menjalani hukuman yang paling hina: salib (Filipi 2 : 5 – 8).

Yesus dengan sengaja tidak memanfaatkan kekuasaan-Nya untuk menjalankan misi di dunia. Sekalipun itu mudah, namun bukan itu jalan yang dilakukan oleh Yesus. Jalan menjadi sama dengan manusia, dan mengalami penderitaan sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia dan dunia ini; itulah yang dilakukan oleh Yesus.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah di masa pra paskah ini sudah belajar untuk menahan diri? Mampu membeli makanan, mampu membeli minuman, bisa dan punya alasan untuk memarahi orang yang menyerobot jalan namun kita memilih untuk menahan diri karena kita ingin belajar untuk taat dan setia kepada Allah. Belajar taat kepada Allah memang mestinya dimulai dari hal yang kecil, dan lama-lama mengambil tanggung jawab yang besar dalam hidup kita.

Jadi, sudahkah kita mulai? Belajarlah untuk taat dan setia. Kalau pelanggaran dimulai dari yang kecil dan apa yang pertama-tama korupsi Rp 5.000,- bisa menjadi 5 milyar rupiah, bukankah ketaatan juga bisa kita mulai dari hal yang kecil? Mulailah taat kepada hal yang kecil, maka kita semakin hari akan semakin taat untuk hal-hal yang besar.

Selamat belajar menahan diri!

Agus Wijaya (Cermin - Warta Jemaat, 24 Februari 2013)

 
2013 : Tahun Politik… Lalu Datang Banjir… Cetak

Beberapa saat sebelum tahun 2012 berakhir, presiden menyatakan : 2013 adalah tahun politik. Ini diungkapkan karena di tahun 2013 ada beberapa Pilkada di Indonesia, dan tahun ini adalah persiapan Pemilu legislatif maupun eksekutif; terjadinya pergantian anggota DPRD, DPR dan presiden; pesta demokrasi yang memerlukan energi yang tidak sedikit.

Namun, perlukah kita hanya fokus kepada pergantian pemimpin? Patutkah kita menjadikan politik sebagai “panglima” dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Lalu, bagaimana kehidupan bangsa dan negara kita? Apakah kita hanya akan mengarahkan hidup kita kepada politik? Apakah kita akan mengabaikan hal-hal lain?

Tahun 2013 tentu sama dengan tahun-tahun yang lain. Karena bukan tahun kabisat, maka tahun ini akan dijalani sebanyak 365 hari. Dan, apakah kita akan menjadikan 365 hari itu sebagai fokus kepada kehidupan politik? Lalu, apa yang kita dapatkan dengan fokus kepada dunia politik? Apa yang rakyat akan menjadi kenyang dan merasakan keamanan ketika fokus kepada politik?

Banjir Jakarta hari-hari terakhir menunjukkan kepada kita bagaimana partai politik “absen” untuk mendatangi konstituennya. Padahal, bukankah ketika musim kampanye semua calon pemimpin dan calon anggota legislatif berusaha untuk menyatakan : “Pilihlah saya.” Bahkan dengan pernyataan yang seringkali lebay: “Pilihlah saya maka kalian akan mendapatkan kesejahteraan.” Bahkan tidak jarang untuk memberikan “bukti” mereka perhatian supaya orang memilih mereka maka pagi buta seringkali ada amplop di sisipkan di bawah pintu sebagai pernyataan : “pilih saya. Ini untuk membeli suara anda.” Namun, apakah yang terjadi setelah itu? Rakyat dilupakan. Bahkan banjir kemarin menunjukkan lebih banyak orang yang “bersembunyi”, tidak menampakkan diri; mereka yang berbusa-busa mengatakan : “Kami menjadi wakil anda!!!!” Para pemimpin memang turun, namun ada yang malu kepada Gubernur DKI Jakarta, ada yang mau “show” dengan berjalan di banjir dengan celana digulung. Dan kalau yang perhatian memang tidak lain adalah demi mendapat simpati dan suara.

Banjir menunjukkan bukti kepada kita betapa kepedulian hanya ada setiap lima tahun sekali. Kepedulian untuk mendapatkan suara rakyat supaya mendukung mereka. Kepedulian yang tidak tulus. Padahal setiap orang diharapkan untuk memberikan perhatian kepada orang lain. Tuhan Yesus menyatakan :

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka….” (Matius 7 : 12) 

Bukankah itu yang mestinya dilakukan? Memang itu perkataan Tuhan Yesus namun dalam kalimat yang negatif (dengan menyatakan “yang tidak dikehendaki”) juga dikatakan oleh pemimpin yang lain.

Memang tidak mudah. Membutuhkan pengorbanan, dalam ayat berikutnya Tuhan Yesus menyatakan :

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7 : 13 – 14) 

Sejak semula Tuhan Yesus menyatakan : tidak mudah memperhatikan rakyat, orang kebanyakan, orang pinggiran dan orang yang dipinggirkan. Lebih mudah menyatakan fokus kepada hal-hal yang lebih besar karena akan menjadi perhatian orang banyak dibanding dengan fokus kepada yang tidak bisa “dijual”. Lebih mudah diperhatikan kamera bantuan ke Jakarta yang disorot kru TV dan koran, dibanding dengan bantuan ke Lebak, yang jauh dari hingar bingar.

Tapi, itukah seorang pemimpin? Itukah juga kalau kita adalah orang Kristen? Yesus memperhatikan orang kebanyakan, dan Dia memperhatikan kita, orang berdosa. Kita?

Agus Wijaya (Cermin - Warta Jemaat, 27 Januari 2013)

 
"Mulutmu, Harimaumu" Cetak

MULUTMU HARIMAUMU  …. , yang pada dasarnya kita harus menjaga mulut dan tutur kata karena bisa jadi bagaikan harimau galak menerkam balik kepada diri kita sendiri apabila yang keluar dari mulut kita adalah ‘bahasa yang kelewatan’ .Hingga saat inipun ungkapan ini masih popular.Tahukah saudara asal-usul ungkapan tersebut? 

  1. Mulutmu, harimaumu. Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kejadian masa revolusi Perancis beberapa ratus tahun silam. Kala itu, sang jenderal legendaris, Napoleon Bonaparte, saat berperang di Timur Tengah pada tahun 1799 bermaksud akan melepaskan 1200 tentara Turki yang berhasil ditawan Perancis ketika mereka berhasil merebut Jaffa.Saat itu Napoleon sedang terserang influenza. Maka, ketika ia menginspeksi pasukan, ia sering terbatuk-batuk. Karena penyakit itu, ia kemudian mengumpat "Ma sacre toux" yang artinya "Batuk sialan". Tapi, perwira pendamping Napoleon merasa sang jenderal mengatakan "Massacrez Tous" yang artinya "Bunuh Semua".Akibatnya, seluruh 1200 orang tawanan Turki itu dibunuh hanya karena batuk sang jenderal. Jadi, berhati-hatilah dengan ucapan Anda. 
  2. Pada kekaisaran Nicolas I di Rusia (1825-1855) ungkapan ini mulai dipakai dan popular hingga sekarang. Ketika itu seorang sastrawan bernama Kondraty Ryleyev dihukum gantung. Saat pelaksanaan, tali gantungan putus. Hal ini diyakini masyarakat sebagai pertanda bahwa terhukum tidak bersalah sehingga ia harus dibebaskan.Merasa menang, naluri pembangkangan Ryleyev pun berkobar kembali, Ia kembali melontarkan kritikan pedas.Katanya, "Pemerintah sekarang ini tidak beres. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menggantung anda".Sang Kaisar marah besar mendengar ocehan pemberontakan itu dan memerintahkan para algojonya mengulang hukuman gantung.Pada 26 Juli 1926, Ryleyev mati di tali gantungan.Kritikan Rylevev menjadi seperti harimau yang balik menerkam dirinya. 

“ Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah

bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu

dan merusakkan pekerjaan tanganmu?” (Pengkhotbah 5:5)

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu,

tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu,

supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus  4:29)

 

Marfan F. Nikijuluw (Cerrmin - Warta Jemaat, 20 Januari 2013)

 
Perubahan Jadwal Kebaktian Minggu Cetak

Sebagai tindak lanjut atas hasil Survey yang telah dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2012 yang lalu dan berdasarkan Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) 28 Oktober 2012, Majelis Jemaat menetapkan perubahan jam kebaktian GKI Serpong yang akan berlaku mulai tanggal 06 Januari 2013 sebagai berikut:

  • Kebaktian Umum Pukul 06:00 wib  
  • Kebaktian Umum Pukul 08:00 wib
  • Kebaktian Umum Pukul 10:30 wib
  • Kebaktian Umum Pukul 17:00 wib
  • Kebaktian Anak  Pukul  06:00 wib
  • Kebaktian Anak Pukul  08:00 wib
  • Kebaktian Anak Pukul 10:30 wib
  • Kebaktian Anak Pukul 17:00 wib
  • Kebaktian Tunas Remaja  06:00 wib
  • Kebaktian Remaja  06:00 wib
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 22