|
Beberapa
saat sebelum tahun 2012 berakhir, presiden menyatakan : 2013 adalah tahun
politik. Ini diungkapkan karena di tahun 2013 ada beberapa Pilkada di
Indonesia, dan tahun ini adalah persiapan Pemilu legislatif maupun eksekutif;
terjadinya pergantian anggota DPRD, DPR dan presiden; pesta demokrasi yang
memerlukan energi yang tidak sedikit.
Namun,
perlukah kita hanya fokus kepada pergantian pemimpin? Patutkah kita menjadikan
politik sebagai “panglima” dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Lalu,
bagaimana kehidupan bangsa dan negara kita? Apakah kita hanya akan mengarahkan
hidup kita kepada politik? Apakah kita akan mengabaikan hal-hal lain?
Tahun
2013 tentu sama dengan tahun-tahun yang lain. Karena bukan tahun kabisat, maka
tahun ini akan dijalani sebanyak 365 hari. Dan, apakah kita akan menjadikan 365
hari itu sebagai fokus kepada kehidupan politik? Lalu, apa yang kita dapatkan
dengan fokus kepada dunia politik? Apa yang rakyat akan menjadi kenyang dan
merasakan keamanan ketika fokus kepada politik?
Banjir
Jakarta hari-hari terakhir menunjukkan kepada kita bagaimana partai politik
“absen” untuk mendatangi konstituennya. Padahal, bukankah ketika musim kampanye
semua calon pemimpin dan calon anggota legislatif berusaha untuk menyatakan :
“Pilihlah saya.” Bahkan dengan pernyataan yang seringkali lebay: “Pilihlah saya
maka kalian akan mendapatkan kesejahteraan.” Bahkan tidak jarang untuk
memberikan “bukti” mereka perhatian supaya orang memilih mereka maka pagi buta
seringkali ada amplop di sisipkan di bawah pintu sebagai pernyataan : “pilih
saya. Ini untuk membeli suara anda.” Namun, apakah yang terjadi setelah itu?
Rakyat dilupakan. Bahkan banjir kemarin menunjukkan lebih banyak orang yang
“bersembunyi”, tidak menampakkan diri; mereka yang berbusa-busa mengatakan :
“Kami menjadi wakil anda!!!!” Para pemimpin memang turun, namun ada yang malu
kepada Gubernur DKI Jakarta, ada yang mau “show” dengan berjalan di banjir
dengan celana digulung. Dan kalau yang perhatian memang tidak lain adalah demi
mendapat simpati dan suara.
Banjir
menunjukkan bukti kepada kita betapa kepedulian hanya ada setiap lima tahun
sekali. Kepedulian untuk mendapatkan suara rakyat supaya mendukung mereka.
Kepedulian yang tidak tulus. Padahal setiap orang diharapkan untuk memberikan
perhatian kepada orang lain. Tuhan Yesus menyatakan :
"Segala sesuatu yang kamu
kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada
mereka….” (Matius 7 : 12)
Bukankah
itu yang mestinya dilakukan? Memang itu perkataan Tuhan Yesus namun dalam
kalimat yang negatif (dengan menyatakan “yang tidak dikehendaki”) juga
dikatakan oleh pemimpin yang lain.
Memang
tidak mudah. Membutuhkan pengorbanan, dalam ayat berikutnya Tuhan Yesus
menyatakan :
Masuklah melalui pintu yang sesak itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak
orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang
menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7 : 13 – 14)
Sejak
semula Tuhan Yesus menyatakan : tidak mudah memperhatikan rakyat, orang
kebanyakan, orang pinggiran dan orang yang dipinggirkan. Lebih mudah menyatakan
fokus kepada hal-hal yang lebih besar karena akan menjadi perhatian orang
banyak dibanding dengan fokus kepada yang tidak bisa “dijual”. Lebih mudah
diperhatikan kamera bantuan ke Jakarta yang disorot kru TV dan koran, dibanding
dengan bantuan ke Lebak, yang jauh dari hingar bingar.
Tapi,
itukah seorang pemimpin? Itukah juga kalau kita adalah orang Kristen? Yesus
memperhatikan orang kebanyakan, dan Dia memperhatikan kita, orang berdosa. Kita?
Agus Wijaya (Cermin - Warta
Jemaat, 27 Januari 2013) |